Tuesday, 17 November 2009

Faculty of soul

Yoyoyo, post setelah terbebas dari group meeting! Hihihi, kalo udah lewat meeting itu tuh jiwa terasa tenang-aman-damai-sentosa, paling ntar lieur lagi kalo dah deket-deket jadwal meeting lagi, heheheh. Kali ini, sesuai judulnya, Rachma akan memperkenalkan rubrik baru (huehehehe, pake kata 'rubrik' biar rada keren mrgreen): "faculty of soul". Bisa ditebak dari artinya, rubrik ini Rachma khususkan untuk bahas-bahas masalah kejiwaan (Rachma pengen ketawa sendiri pas nulis kata 'kejiwaan' razz). Maksud dibuatnya rubrik baru ini, biar Rachma gak terlalu banyak nyampah di blog, hihihihi, jadi ada slot buat seriusan gituwh. Walo gak tau juga sih, ntar kalo pas ngetiknya mah curiga bakal banyak acara nge-junk juga biggrin. Yah pokoknya isi blog tanggung jawab pembaca lah ya... mrgreen.


Sebagai bekgron, Rachma mulai menyukai ilmu psikologi dari jaman SD. Saat itu karena di rumah banyak bertebaran buku psikologi pendidikan punya Papa dan Mama. Rachma waktu itu termasuk orang yang bacaannya gak pake pilih-pilih, dari yang ringan ampe yang berat dibaca juga. Eh tapi, Rachma mah gak sempet tuh jadi pelanggan Bobo. Jadi kalo temen-temen bercerita tentang masa kecilnya dan membahas Bobo, si sayah ini teh suka bingung sendiri... "emang Bobo tuh rame dibaca ya? Perasaan itu bacaannya anak kecil banget" (wehehehe, sok-sok dewasa razz). Dan kalo ada orang yang bilang kalo melewati Bobo identik dengan masa kecil kurang bahagia.... ah, Anda salah! Masa kecil sayah mah amat sangat bahagia. Walo bacaannya udah nyampe psikologi, ilmu fiqih dan sejenisnya, Rachma tidak merasa kehilangan keceriaan masa kecil. Eniwei, ketertarikan tentang psikologi itu berlanjut hingga sekarang. Jadi mungkin ada baiknya kalo hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan jiwa itu Rachma share secara khusus.


Sebagai informasi juga, walopun Rachma seneng baca,,, hmm, disebut seneng banget juga nggak sih, hihihihi. Jadi kalo ada yang bilang baca text book itu membosankan, Rachma sangat setuju! Hahahah... lebih rame baca komik ato novel razz. Eh, tadi tuh Rachma mu bilang kalo Rachma gak suka ama yang namanya training dan sejenisnya. Kan banyak tuh kalo yang nyangkut-nyangkut pengelolaan jiwa tuh suka kedengeran gaung ESQ. Nah, Rachma mah kurang suka acara kaya gitu. Karena... ummm,,,, simply boring.... heheh, maaf, itu pendapat pribadi Rachma, no offense buat yang seneng acara-acara kaya gitu.


Sebagai permulaan, Rachma gak akan bahas secara detail, cuman general aja... dimulai dengan topik yang agak-agak feminis: hakikat perempuan. Mengenai hal ini, Papa Rachma bilang: jangan menggantungkan hidup pada laki-laki, ntah itu dari sisi emosional maupun finansial. Seorang perempuan harus bisa berdiri di atas kaki sendiri. Prinsip ini agak klise dan sangat ringan untuk diucapkan, tapi tidak pada pelaksanaannya. Tapi mungkin di situlah letak pendidikan hidup bagi seorang perempuan di mana pun ia berada.


Dogma yang berlaku di dunia timur tentunya sangat jelas menggariskan bahwa perempuan itu harus nurut ini itu, bahwa derajat laki-laki itu lebih tinggi, bla... bla... bla. Dampak baiknya tentu saja ketika seorang perempuan memahami kodratnya, tau bagaimana bersikap dan membawa diri. Dampak kurang baiknya ketika tertanam satu prinsip di kepala seorang laki-laki: perempuan tidak boleh lebih unggul. Rachma kurang tau apakah itu simpel berkaitan dengan budaya, atau memang telah bercampur dengan ego. Lagian, di sini kan Rachma mu bahas bagian perempuannya saja. Jadi tenang aja, bagian ego cowoknya gak akan Rachma hakimi, hihihihi. Kadang lucu sebenernya, jadi dari yang Rachma amati, setiap cowok itu punya push botton ego yang berbeda-beda. Dan ketika push botton itu di-on-kan, egonya terusik, maka suatu hal amazing terjadi, ngadak-ngadak ke-cool-an sang cowok hilang serta merta. And I find it very funny, refreshing, in some interesting way. Well, you know I am a scientist, so once I know a person, I keep in mind all the details, behavior, and gestures of the person. I observe, I learn, I predict, I conclude, I adapt. It's just like gathering all the data from some experiments and conclude something from it. Maybe it's preliminary conclusion, but it's important.


Satu hal yang penting dari mengelola jiwa adalah keberterimaan terhadap diri sendiri. Kalo di dunia perempuan mungkin lebih spesifiknya menyangkut kata sifat: cantik, menarik, dan sejenisnya. Ini berkaitan erat tentunya dengan rasa percaya diri. Di sini ada doktrin yang agak lebay tapi penting, "Ladies, each of you are a beautiful princess, full of charm and happines. So, act like one". Rachma lupa sih pertama denger ini tuh di mana, tapi ... lebay emang, heuheuheuh. Yang jelas mah, sebelum siapa pun, seorang perempuan harus menghormati dan menghargai dirinya sendiri. Dan seperti biasa, penerapan prinsip ini tidak mudah. Misal, dari pengalaman sendiri aja, alkisah... (uhuk..uhuk... ngadongeng heula razz), Rachma pernah deket dengan seseorang (ehm... wajib anonim ini, wajib samar juga ceritanya razz). Sebagai seseorang yang tumbuh dalam adat timur, tentu saja si sayah teh nyadar diri untuk menghormati laki-laki, mengedepankan pendapatnya, juga menghargai egonya. Yang kalo dipikir-pikir Rachma teh suka amazed, ngapain juga gitu ya Rachma cape-cape mentingin perasaan orang,,, sodara bukan, suami bukan. Cinta memang buta... Hahahah... Ups! razz. Tau dong kalo Rachma teh orangnya keras kepala, otak dipenuhi dengan berbagai ilmu (pembelaan maksutnyah mrgreen), siap dengan segala argumen ini itu. Tapi dasar cinta ... (weheheheh, ih Rachma ngadak-ngadak ngerasa aneh nulis ini, tapi da mau sharing makna kisahnya mrgreen)... pokoknya saat itu Rachma dapet kekuatan untuk... umm... you know... selalu mengalah. Singkat cerita, intinya mah selalu mengalah teh gak sehat we lah. Sangat tidak bagus bagi kesehatan jiwa. Saat itupun Rachma menyadari bahwa kondisi itu tidak baik bagi Rachma, tapi ntah kenapa, susah buat keluarnya. Udah jelas eta teh pembunuhan karakter, dan Rachma pun ngerasa potensi Rachma tuh gak berkembang kalo deket ama orang itu, terintimidasi we lah pokoknya, tapi tetep we susah buat lepas, aneh. Waktu itu, taqdirlah yang akhirnya memaksa Rachma untuk keluar dari kondisi tidak sehat itu. Saat itu Rachma ngerasa sedih (itu patah hati ceritanya razz), tapi di sisi lain ngerasa legaaaaa (ya iya lah, itu mah serasa bebas dari penjara, hueheheh). Akhir-akhir ini, Rachma ketahui bahwa itu adalah gelagat "korban kekerasan emosional". Ck,,,ck,,,ck,,, padahal Rachma teh sering bergulat dengan psikologi, tapi pas kecemplung ama satu kasus mah, jadi seperti blank begitu. Makanya itu mah alhamdulillah banget. Pokoknya Rachma sekarang mah berhenti mempertanyakan taqdir, disyukuri saja. Tidak ada yang sia-sia dari tiap episode hidup, segimana pun efek gak enak hatinya. Paling nggak, ya,,, bikin Rachma lebih waspada lah, lebih aware. Jadi, Rachma pun berjanji pada diri sendiri, bahwa hakikat perempuan itu....

- senantiasa riang-gembira-bahagia.... huhuy! mrgreen. Jadi perlu diingat bahwa kehadiran perempuan itu pada dasarnya menenangkan jiwa, betul gak para cowok? Hihihihi. Jadi weh Rachma mikir, gimana cara mau menenangkan jiwa suami kalo sendirinya hidupnya suram gundah gulana (ahahahah lebay razz). Perubahan paradigma ini kerasa banget loh di Rachma. Yang asalnya Rachma terkena sindrom "Cinderella complex" yang berharap suatu saat sang pangeran akan datang membawa sinar menerangi hidup, sekarang mah jadi stop! Tidak boleh berharap seperti itu. Ingat, memberi lebih baik daripada menerima. Jadi, mendingan menikmati hidup dan bahagia, kalo ada yang kurang-kurang ya... dicari solusinya sendiri. Jadi, pada saat bertemu dengan sang suami tuh, jiwa Rachma dalam keadaan sehat, tidak berharap orang itu akan mengisi kekosongan hidup Rachma, melainkan Rachma akan men-share my happy and fulfilled life.

-
Tetap feminin serta senantiasa percaya diri, juga menghormati dan menghargai diri sendiri. Jadi cewek tuh ya harus punya bargaining power gitu, dan sebelum men-demand orang lain menghormati kita, tentunya kita harus menghormati diri sendiri. Dan ingat, nobody can make you feel inferior without your consent. Jadi kalo emang kita gak ngizinin orang lain bikin kita sedih, segimanapun orang itu nyakitin, ya kita mah lempeng we... tetap senang bahagia. Oya, ada salah satu doktrin yang kalo Rachma inget tuh selalu aja pengen ketawa: jadi cewek tuh ya harus feminin, elegan, sampai marah pun harus tetep elegan. Pengen ketawa karena... marah pun harus elegan gitu low! Heuheuheuh. Di sini berkembang pada prinsip selanjutnya: hidup sederhana bukan berarti hidup kaya orang susah. Perempuan itu identik dengan keindahan, jadi adalah suatu hal yang wajar kalo perempuan punya baju banyak, tas banyak, jilbab banyak, sepatu banyak (uhuk...uhuk... ini pasti yang cowok protes, hueheheheh razz)... karena itu semua adalah bagian dari menghormati diri sendiri dan tidak mendholimi mata orang lain. Rachma yakin, walopun cowok kebanyakan suka protes-protes gak jelas kalo ada cewek suka belanja, pada dasarnya mereka suka ngeliat cewek berpakaian indah, rapih. Dan jangan menipu diri sendiri atuh cowok, everything has its own cost, you get what you pay for. Kalo ngerasa belum bisa beliin banyak barang, apalagi kalo harganya mahal, nyantai ajah... Allah mah gak akan mendholimi situ dengan menjodohkan dirimu ama cewek yang gak sekufu. Jadi nyantai weh, heheheheh... you get what you deserve razz.

- Senantiasa menghiasi diri dengan ilmu. Ini mah gak perlu dibahas panjang lebar lagi ya. You have to have both beauty and brain. Dan pada dasarnya semua perempuan itu cantik, jadi tinggal gimana cara menambah wawasan dan skill. Ini berkaitan juga dengan behavior dan attitude... karena beauty without manner is nothing.

- Berani menghadapi kenyataan, ngambil keputusan dan siap dengan segala konsekuensinya. Berkaca dari sekelumit kisah yang Rachma ceritain tadi, satu hal Rachma garis bawahi: ketegasan ngambil keputusan. Ntah apakah semua cewek pernah mengalami fase ini ato cuma Rachma aja gitu, hihihi. Saat itu, yang ada dalam pikiran Rachma adalah karena saking Rachma menghormati orang itu, jadi Rachma mempercayakan semua keputusan tuh di dia, bahkan ketika Rachma nyadar bahwa yang terjadi saat itu tuh udah gak sehat buat Rachma. Harusnya kan si sayah teh segera mengambil keputusan sendiri gitu yee, biar menderitanya kagak lama, heheheh,,, tapi dasar cewek... buat tegas tuh susah betul. Kadang karena alasan... si sayah ini teh takut menyakiti hati orang itu (hoalah, ini padahal yang menderitanya Rachma gitu loh, aneh-aneh wae, hihihi). Yah, tapi dari situ Rachma belajar banyak lah, kalo secara kasarnya mah seolah menerima tamparan dunia nyata... Wake up girl, you can't be that naive anymore. Berani menghadapi kenyataan ini penting, karena berkaitan erat dengan kejujuran, jujur pada diri sendiri, pada orang lain, pada lingkungan. Sangatlah menyedihkan, jika kita membiarkan diri hidup dalam kebohongan hanya karena takut menghadapi kenyataan. You simply have to grow up anyway, so face the truth, it's good for your soul mrgreen.

- Prepare your bright future. Seperti satu pepatah: 'hari esok ditentukan oleh hari ini'... jadi, optimalkan apapun yang dijalani sekarang (eheheheh,,, nyeramahin diri sendiri,,, paper Neng...paper kapan publish...). Jangan lupa juga untuk mengatur keuangan dengan baik, jangan belanja yang gak penting razz. Oya, ada dialog lucu ketika ngobrol sama seorang dosen kampus gajah, kurang lebih kaya gini:

d: Rachma tinggalnya di mana?
me: di YB
d: wah, tinggal di YB, single lagi. Nabungnya banyak dong, bisa sekian euro per bulan
me: iya
d: wah, itu bisa kebeli mobil, ini itu
me: (cuman 'heheheh' ajah)
d: enak banget ntar yang jadi suaminya, udah dapet doctor, tabungannya banyak, bla..bla..bla...
me: (kembali cuman 'heheheh', secara ngobrol ama dosen gitu loh)
d: mendingan uangnya dipake Ma. Jalan-jalan ke sini, ke situ
me: (kembali 'heheheh' sambil mikir... lha, beliau teh ngajarin gak bener, heuheuheuh)

Obrolan ini disusul obrolan ama temen, kurang lebih gini:
temen: Ayo Ma, nikah aja. Nunggu apalagi, udah punya ini itu, gak sekalian bikin rumah juga Ma?
me: Yeh, nikah juga mesti ada calonnya. Masa nyebar undangan terus calonnya pake tanda bintang masih dalam konfirmasi (sambil ketawa ngakak, da emang pengen ketawa razz)
t: udah ama si itu aja, masih single, baik lagi.
me: yey, single dan baik aja gak cukup, kan mesti ngeklik juga (keukeuh pokokna ama kata ngeklik mrgreen). Dan Rachma mah sudah ber-azzam gak akan menyalurkan tabungan buat bikin rumah sendiri. Enak betul ntar yang jadi suami Rachma. Ih, lagian aneh banget, masa cewek nyediain rumah.
t: Lha, ya gpp. Ya itu mah rezeki yang jadi suami Rachma atuh.
me: Ewww... tetep we aneh. (Saat ngebayangin itu Rachma merasa dunia seakan jadi terbalik, and it feels so weird)
t: Eh, kita lagi nyariin yang cocok buat Rachma. Tapi susah euy nyari tipe Rachma mah.
me: Hahahah, Rachma ge bingung tipe Rachma tuh kaya gimana, apalagi dirimuwh...

Karena obrolan satu dan lainnya tentu saja ada saat-saat di mana kerasa ragu untuk bener-bener mengelola keuangan... kadang karena mengkhawatirkan hal ini itu nu teu penting tea. Sampai pada suatu saat Rachma berpikir... uang yang ada di tangan Rachma ini adalah titipan, yang tentunya harus Rachma pergunakan sebijaksana mungkin. Kalau seandainya pengoptimalan uang itu sampai pada tahap 'scare men away' kaya yang dikhawatirkan Mama, that's the risk I have to take. Yang sebetulnya Rachma pun tau, gak semua cowok berpikiran sempit dan konservatif kok, so there's nothing to worry about. Dan Rachma pun sudah pada tahap memutuskan, bahwa seorang perempuan harus menyiapkan masa depannya sendiri, termasuk sisi finansial yang stabil. Tidak lantas dijadikan alasan untuk tinggi hati, melainkan untuk ,,, well, to survive wink.


Anyway, gambaran umum topik kali ini kira-kira kaya gitu... nantilah kalo ada ide lagi ditambahin poinnya, heheh. Nanti mah pengen ngebahas detail tiap kata sifat, misal... kata 'bahagia', ntar Rachma kembangin jadi satu postingan puanjaaang, mengarang indah ampe yang bacanya cape, hueheheheh. Dan ini mah dibahasnya juga subjektif ya dari pandangan Rachma... jadi kalo banyak hal yang kurang setuju, ya masa atuh dirimu teh mengharap Rachma berpikiran sama (dunia gak akan rame kalo kaya gitu razz). Dan sharing poin-poin ini tidak hanya penting bagi perempuan. Bagi laki-laki juga penting atuh, ntar kalo punya anak cewek kan mesti dibekalin wejangan juga.


Udahan dulu ah, ini udah masuk autumn, malam lebih panjang, jadi lebih mudah ngantuk...

blogger-emoticon.blogspot.com

3 comments:

Agung said...

kalau di buku ini yang membahas biologi jender, perasaan mengikatkan diri itu disebabkan tingginya kadar hormon oksitosin pada perempuan -yang terasa penting dalam berhubungan dengan anak. Dalam fase pac*ran mungkin efeknya jadi begitu :P
Oh ini maksudnya jadi objek observasi itu ya hehe

Rachmawati said...

Haha, ntah ya itu masuknya pacaran, taáruf ato apalah, kayanya sama aja kalo ada feeling lebih mah :P. Lagian, observasi kan emang perlu Gung, gak cuman ke pihak lain, termasuk observasi diri sendiri juga, heheh.

Itu yang oksitosin... diproduksinya tetep konstan kan?

Agung said...

Ndak, ada semacam siklusnya: kalau menurut buku itu yang sering dibahas perbedaan pada fase pacaran dan setelah menikah. Beda. Laki-laki pun sempat mengalami siklus kadar oksitosin tinggi, tapi sebagian besar hidupnya oksitosinnya rendah. Tentu saja, selalu ada pengecualian...

Popular Posts