Tuesday, 28 September 2010

Tirai malam

Sepanjang jalan setapak
Dalam ruang yang meredup
Sejauh mata memandang
Dalam dimensi yang sunyi sepi
Lampu-lampu berderet rapih, bersinar remang
Tertopang tiang-tiang tinggi
Bertemankan angin yang bertiup pelan
Sesekali berlari, menyapu beberapa helai daun kering
Tak ada sinar bulan kala itu
Hanya ada satu dua bintang, kelap kelip bersahutan

Malam semakin gulita
Bergerak menjauh dari gemerlapnya siang
Ada melodi halus yang terbisikkan
Lirih terlantunkan, terdendangkan, terngiang
Ada sapaan ramah terdengar sayup
Melambai, mengayun, berirama
Langkah pun terhenti
Sejenak memandang gurat teduh seruan alam
Ada damai terselip
Dan langkah pun meringan
Kembali melaju gontai

Langit bergerak mensketsa gelap
Awan-awan bergegas bersembunyi
Embun-embun mulai merenda di udara
Saling menyahut, menyatu, mengabstrak pandangan mata
Membaur melantunkan kesenyapan
Gempita menyulam keheningan

Ada ketenangan tertatahkan
Tergerai indah, temaram mewarnai perjalanan
Melukiskan secercah binar pada mata yang mulai legam
Memahat senyum pada raut yang sempat tertunduk
Sajak indah pengantar tidur pun mulai menggema
Memanjakan jiwa-jiwa yang lelah
Kidung malam pun menggaung lirih
Memulas angan membentang asa
Riak-riak tawa serentak tergugah
Dan harapan pun saling berkejaran
Bersalaman dengan malam
Yang dalam gelapnya menghadiahkan kedamaian

Terima kasih Tuhan
Atas hidup yang Engkau anugerahkan
Kan kusongsong pagi
Berhiaskan kegembiraan

Terima kasih Tuhan
Atas hidup yang Engkau anugerahkan
Kan kujalani siang
Berdendangkan keceriaan

Terima kasih Tuhan
Atas hidup yang Engkau anugerahkan
Kan kusapa petang
Beriramakan hati yang lapang

Terima kasih Tuhan
Atas hidup yang Engkau anugerahkan
Kan kulalui malam
Berselimutkan ketentraman

Terima kasih Tuhan
Atas hari-hari yang Engkau izinkan mereka mengajarkan banyak hal

Popular Posts